Category: Uncategorized

Kisah Inspiratif dari Pembuat Aplikasi Snapchat

Kisah Inspiratif dari Pembuat Aplikasi Snapchat

Apakah kalian memiliki akun media sosial Snapchat? Aplikasi Snapchat adalah aplikasi untuk berbagi foto dan juga video. Snapchat ini media sosial paling populer di dunia. Namun apakah kalian mengetahui siapa CEO dari pendiri aplikasi Snapchat ini? Bagaimana cerita kehidupan pada saat pendiri Snapchat ini membangun dan juga membuat aplikasi Snapchat, dari masa-masa sulit hingga menuju kesuksesan? Nah berikut ini kami akan membahas mengenai kisah dari perjuangan menuju kesuksesan dari pembuat Snapchat.

Biografi Pribadi Pendiri Snapchat

Apakah kalian mengetahui Evan Spiegel? Yang perlu kalian ketahui bahwa ia bukan anak muda biasa. terlahir dari keluarga berada, putra tertua dari pasangan pengacara. Lahir di tahun 1990 merupakan putra dari pasangan Melissa, lulusan Harvard, yang bekerja sebagai pengacara pajak yang kemudian berhenti. Ayahnya bernama John W. Spiegel belajar di fakultas ekonomi di Stanford dan juga lulusan hukum dari Yale. Kehidupan Evan bisa dibilang lebih lah dari berkecukupan di masa kecilnya. Ketika ia dilahirkan sang ayah sudahlah memiliki karir yang mapan. Ibunya berhenti bekerja dan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Keluarga Spiegel menikmati hidup dengan rumah seharga $2 juta. Punya pendapatan mencapai $3 juta di 2006. Punya bola tangkasnet beberapa mobil mewah seperti tiga Lexus Es dan Mustang tahun 1996.

Evan bersama dua saudarinya masuk ke sekolah privat di Santa Monica. Yang mana ketiganya punya satu mentor bergaji $250 per- jam. John Spiegel selalu meyakinkan hidup mereka bersaudara istimewa. pada suatu hari, ketika masih kecil Evan pernah dibully. namun ternyata itu adalah “salah sangka dari beberapa teman sekelas”. Ketika itu ia masih kelas 4, dan pada akhirnya semua masalah diserahkan kepada ayahnya. Ya, dengan pengaruh kekuasaan ayahnya, masalah sosial Evan Spiegel bisa dengan mudah diredam. Semasa kecilnya Evan Spiegel mendapatkan masa kanak-kanak yang bahagia. Selalu dipenuhi dengan kekayaan, kekuasaan, liburan, serta uang yang banyak dan mendapatkan tunjangan bulanan yang besar. Namun, Semua kenyamanan itu sudah berubah drastis ketika April 2007. Kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Perceraian nampaknya mengguncang jiwa Evan. Evan harus memilih hidup antara ayah atau ibu. Jiwa seorang venture- capitalist ada dalam dirinya. Ia memilih hidup bersama keduanya, lebih banyak ke ayahnya. Dia mendapatkan satu kamar istimewa dari rumah baru milik ayahnya. Disisi lain, dia masih bisa mendapatkan kasih sayang dari ibunya juga. Seusai lulus dari Crossroads, sekolah tinggi swasta di Santa Monica, California. Ia melanjutkan pendidikannya ke Stanford University untuk mengambil gelar Bachelor of Arts and Science di sana. Sebelumnya, ayah Evan Spiegel juga merupakan anak didik dari universitas tersebut.

Bekerja Mandiri

Meski hidup berada tak berarti Evan tak bisa bekerja. Pekerjaan pertama kali tercatat datang dari seorang teman. Tanpa berpikir panjang ia bekerja menjadi Marketing Internship di perusahaan Red Bull. Memang Evan terobsesi dengan minuman energi. Muda dan punya banyak uang, kemampuannya dalam karir memang menonjol, menonjol kebiasaan berpestanya. Dalam penjelasannya ibunya, pada Oktober 2007, ada 300 orang remaja tercatat ikut dalam sebuah pesta. disisi lain, Pengeluaran Evan mulai tak terkendali. Ayahnya merasa ini merupakan dampak perceraiannya; ayah evan menganggap hal tersebut biasa saja.  dan hanya meminta evan  Evan untuk sedikit mengendalikan pengeluarannya, Evan pun menyetujuinya nasehat ayahnya. Namun, ada permintaan yang harus dipenuhi sang ayah sekali lagi: sebuah mobil BMW 550i, yang mana itu seharga $75.000.

Ia sadar bahwa ayahnya bekerja sangat keras. ia berpikir ayahnya bekerja sangat keras untuk memenuhi gaya hidup yang menakjubkan. Lantas Evan mulai sadar dan berterima kasih. rasa terimakasih tersebut diwujudkan dengan mengurangi biaya untuk makan, pakaian, entertainment, dan transportasi sampai cuma $2.000per- bulan. Tapi tetap meminta uang berjaga- jaga $2.000 untuk disimpan. “Karena Hidupnya penuh dengan biaya tak terduga,” jelas Evan Bisa dibilang Evan Spiegel sadar akan kenyamanan itu bisa berubah kapanpun. Meski hidup dalam ‘kenyamanan’ tak membuatnya berhenti berkarya. Termasuk tentang jiwa kewirausahaan yang ia miliki. Evan mendapatkan itu bahkan ketika hidup nyaman bersama kamar besarnya. Dia pernah mengambil pelajaran tambahan di desain di musim panas 2005. Dia bersekolah tambahan di Otis College of Art and Design, Los Angeles. Sebuah pengalaman berkesan baginya ketika berumur 15 tahun. Dia pernah bekerja di sebuah koran sekolah yang bernama Crossfire, bagian dari Crossroad Newspaper. Ia akan berkeliling ke bisnis- bisnis lokal dan mulai menawarkan iklan, jika berbicara tentang menjual iklan, maka Evan lah yang paling tinggi dan unggul dalam penjualan iklan. Evan disebut sebagai paling punya tujuan serta target untuk mencapai angka penjualan.

Keluar kuliah Demi Mendirikan Snapchat

Evan memulai perjalan karirnya pada bulan Juli 2011. Pada tahun tersebut ia memutuskan untuk fokus mengerjakan proyek SnapChat. Aplikasi mobile tersebut merupakan proyek kelasnya. ide SnapChat lahir ketika Evan mengambil mata kuliah desain produk di Stanford. Hingga akhirnya Evan memutuskan untuk keluar dari Stanford. Hanya untuk fokus mengerjakan proyeknya. Saat evan merintis aplikasi mobile SnapChat. Ia ditemani oleh dua orang sahabatnya, yaitu Reggie Brown dan Robert Murphy. Lahirnya aplikasi ini diawali oleh Evan dan Brown. Karena aplikasi ini merupakan proyek salah satu kelas di Stanford University. Evan sebagai desain produk utama. Sedangkan Brown sebagai Programmingnya. Namun Reggie Brown dikeluarkan oleh tim SnapChat. Brown meminta 20% saham dari perusahaan. karena Brown mengaku bahwa dirinya merupakan bagian penting dalam penciptaan aplikasi mobile ini. Hingga akhirnya Evan Spiegel menjabat sebagai pendiri dan CEO aplikasi mobile SnapChat. Kantornya berada di Venice, California.

Jika dilihat-lihat. Evan Spiegel mirip dengan Mark Zuckerberg. Kedua orang ini sama-sama keluar dari universitas ternama (Stanford dan Harvard). Dan lebih fokus untuk menjalani perusahaan jejaring sosial. Evan juga memiliki sifat konsumtif. Ia sangat menyukai mobil mahal. Menurutnya mobil membawa sukacita di hidup saya. Selain itu dirinya juga menyukai liburan dan mengadakan pesta mewah. 

Menolak Akuisisi Facebook

SnapChat berkembang dengan cepat, hal ini juga dirasakan oleh pihak Facebook, Perusahaan teknologi raksasa ini begitu tertarik dan ingin mengakuisisi aplikasi SnapChat. Namun Evan Spiegel menolak tawaran tersebut. Padahal aplikasi mobile milik Evan Spiegel ditawar sebesar $3 miliar secara tunai oleh Perusahaan Facebook. Namun ia tetap kokoh dan mempertahankan aplikasi mobile miliknya dan ingin mengembangkannya dengan caranya sendiri. Sekedar info Sebelum bernama SnapChat. Aplikasi mobile ini bernama Picabbo. Pada bulan Juli 2011, Picabbo berubah nama menjadi SnapChat. Tidak lama setelah perubahan nama. Aplikasi mobile SnapChat dapat diakses melalui platform iOS mulai bulan september 2011. Selang setahun, tepatnya 29 November 2012. Aplikasi mobile SnapChat sudah dapat beroperasi pada platform Android.

Aplikasi mobile SnapChat merupakan aplikasi yang sedang trend di kalangan remaja saat ini. Aplikasi ini memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh aplikasi mobile chat lainnya. di mana pengguna aplikasi tersebut dapat berbagi foto dan video (stories) serta mengobrol antar pengguna aplikasi. Foto dan video yang dikirimkan melalui aplikasi mobile SnapChat akan terhapus secara otomatis dalam beberapa detik. Pengirim foto dan video dapat menentukan berapa lama foto dan video tersebut akan terhapus secara otomatis. Sungguh unik dan menarik bukan aplikasi mobile tersebut. ini alasan utama kenapa aplikasi ini digandrungi remaja dunia.

Pebisnis Muda Ikan Salmon dari Norwegia

Pebisnis Muda Ikan Salmon dari Norwegia

Sukses di usia muda sudah pasti hal tersebut menjadi impian semua orang yang ada di dunia. Namun, kesuksesan tidaklah bisa diraih dengan cara yang mudah dan cepat. Berbagai tetesan peluh dan juga air mata, bahkan darah juga menjadi taruhannya. Tetapi kisah hidup dari miliarder muda seperti Gustav Magnar bisa dijadikan sebagai inspirasi banyak orang untuk menjadi orang yang sukses dan juga ia menjadi orang yang memotivasi dalam mencapai kesuksesan yang amat cemerlang.

Siapa itu Gustav Magner ?

Nama Gustav Magnar Witzoe telah menjadi perbincangan hangat sejak tahun 2013 silam. Pria kelahiran Froya, 28 tahun silam ini dikenal sebagai salah seorang miliarder asal Norwegia. Kekayaan itu diwariskan oleh sang ayah, Gustav Witzoe, pemilik perusahaan ikan salmon terbesar di Norwegia bernama SalMa. Saat ini, perusahaan telah memiliki budi daya ikan salmon di pantai lepas untuk pertama kalinya di dunia. Ia pun dinobatkan sebagai miliarder muda terkaya ke-3 di dunia dengan total kekayaan sekitar USD 2,7 miliar atau setara Rp 38,14 triliun (kurs Rp 14.127 per dolar AS kurs akan selalu berubah setiap harinya). Dia memang terlahir dari orang kaya atau istilahnya kaya sejak kecil. Meskipun kaya raya, Gustav dikenal bukanlah orang yang sombong.

Penasaran seperti apa keseharian dan gaya hidup Gustav? Atau ingin meniru gayanya untuk meraih sukses?

Investor Muda di Perusahaan Startup dan Real Estate

Di usianya yang terbilang muda, Gustav tidak semata-mata mengandalkan kekayaan rintisan orang tuanya. Menurut situs Business Insider, Gustav juga ingin merintis perusahaan yang dia bangun sendiri dari hasil kerja kerasnya.

Hal itu dibuktikan dari penanaman saham di perusahaan startup bidang teknologi dan real estate, seperti Snapchat dan Airbnb. Di balik kesibukannya menjadi pengusaha, ia tidak lupa untuk menjalin relasi yang baik dengan sesama pengusaha lainnya. Buktinya bisa dilihat sendiri dari foto unggahan Gustav di Instagram.

Bukan Anak yang Suka Dimanja Orangtua

Gustav sudah menanggung tanggung jawab besar ketika dirinya berusia 19 tahun, saat sang ayah mewariskan perusahaan SalMar. Meskipun demikian, Gustav tidak mau menjadi anak yang manja dan hanya mengandalkan kekayaan orang tua saja.

Dirinya kerap harus menghadiri meeting di sana-sini demi perkembangan bisnis ikan salmon sang ayah. Hasil jerih payah dari bisnis digunakan untuk hal-hal yang positif, seperti bermain golf, menghadiri pameran fesyen, ataupun makan malam bersama keluarganya.

Masih Muda dan Kaya Raya

Pria asal kelahiran Norwegia ini sangat memperdulikan fashion dan penampilannya. Bak artis dan model, kehidupan glamor dan ekstravaganza ditunjukkannya melalui foto di berbagai akun media sosial miliknya, salah satunya di akun Instagram. Gustav Magnar Witzoe bisa menjadi seorang bilioner muda dikarenakan bisnis salmon dari Pulau Froya (dekat Trondheim) yang diwariskan dari orang tuanya, Gustav Witzoe, dengan kepemilikan saham sebesar 53 persen di perusahaan yang bergerak di bidang perikanan tersebut. Ketenarannya dengan jumlah kekayaan yang sedemikian besar mampu menggeser nama bilioner lainnya yang juga berasal dari Norwegia, Trond Mohn dan Kiell Inge Rokke yang merupakan juragan kapal.

Perusahaan di mana ia memiliki saham di dalamnya adalah perusahaan budidaya ikan salmon terbesar di Norwegia, yakni SalMar. Sebagai seorang yang sukses dengan bergelimangan harta, Gustav Magnar Witzoe memiliki hobi jalan-jalan alias travelling ke berbagai negara. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Gustav Magnar Witzoe sangat suka dengan dunia fashion. tidak heran jika ia sangat senang berdandan dan terlihat oke dengan berbagai tato yang ia tunjukkan juga di beberapa bagian tubuhnya. Selain hobinya yang menjadi idaman para wanita itu, ia juga senang bermain golf untuk mengisi waktunya. Baru-baru ini dikabarkan bahwa ia telah berinvestasi dalam sebuah aplikasi penantang Snapchat di Norwegia bernama Gobian.

Meneruskan Usaha Sang Ayah

Gustav Magnar Witzoe mengaku bahwa ia sebetulnya tidak dilahirkan dalam keadaan bergelimang harta seperti saat ini. Ia memberanikan diri untuk bercerita kepada publik bahwa dulu keluarganya hanya orang biasa. Ayahnya, Gustav Witzoe adalah seorang yang bekerja sebagai mekanik dan tidak memiliki banyak uang. Bisa dikatakan bahwa kondisi finansial mereka termasuk golongan menengah ke bawah. Namun, keluarganya berjuang keras untuk bisa naik menaikkan taraf hidup mereka sehingga mampu dikenal dunia menjadi seperti saat ini.

Ia mengungkapkan bahwa perjuangan keluarga hingga pada titik keberhasilan saat ini tidaklah mudah karena mereka memulainya dari titik paling bawah. Mengenai kehidupan pribadinya sendiri, ia tidak banyak mengungkapkan pada media dan mempublikasikannya. Ia hanya mau berbicara mengenai bisnis yang ia kembangkan di perusahaan di mana ia memiliki saham terbesar. Sebagai perusahaan yang baru berdiri tahun 1991, perusahaan yang bergerak di bisnis budidaya ikan salmon ini cenderung memiliki perkembangan dan peningkatan yang cepat. Perusahaannya mampu membuat namanya menjadi perusahaan produsen salmon terbesar dan paling menguntungkan di Norwegia. Karena keterlibatannya dalam bisnis di Perusahaan SalMar semenjak ia duduk di bangku SMA, Gustav Magnar Witzoe sudah sangat mengerti alur kerja di perusahaan yang didirikan oleh ayahnya tersebut. Menjadi seorang bilioner muda, tidak lantas membuatnya berleha-leha dan berpangku tangan dengan keberhasilan dari perusahaan yang didirikan oleh ayahnya tersebut.

Ia mengungkapkan bahwa ia merasakan beban berat yang berpindah ke tangannya dan ia memiliki tanggung jawab yang besar di dalamnya. Banyak pandangan positif dan negatif terhadap dirinya dan sangat mempengaruhi kehidupan sang pemuda bilioner tersebut.

Gustav Menjaga Warisan Keluarga

Sebagai seorang pemuda yang mendapatkan warisan keluarga di usia belia, yakni 19 tahun, Gustav Magnar Witzoe, ia memiliki tanggung jawab besar dengan kepercayaan yang diberikan oleh ayahnya tersebut. Dengan berkembangnya bisnis dari perusahaan ikan salmon yang ia jalankan, kekayaan Gustav Magnar Witzoe kian bertambah dan menjadi semakin kaya. tidak seperti anak orang kaya pada umumnya, ia tidak dibesarkan untuk menjadi seorang anak yang manja karena sang ayah ingin agar ia bisa meneruskan bisnis dan menjaga warisan yang diturunkan kepadanya.

Walaupun demikian, ia tetap menikmati berbagai kenikmatan dari kekayaan yang diwariskan oleh sang ayah dengan hobi fashion dan golf yang ia sukai, mengendarai mobil mewah, dan mengunjungi berbagai destinasi wisata liburan yang menyenangkan. Ia tidak suka membeberkan kehidupannya pada publik sehingga para penggemarnya hanya bisa mengintip sedikit dari kehidupan pribadinya lewat unggahan foto yang ada di akun Instagram milikinya. Sebelum memutuskan pemberian warisan tersebut, sang ayah beserta seluruh anggota keluarga Witzoe melakukan diskusi yang sangat panjang hingga akhirnya diputuskan bahwa Gustav Magnar Witzoe yang layak mendapatkanya. Setelah mewarisi sebagian besar saham perusahaan ayahnya, Gustav Magnar Witzoe mulai aktif dalam setiap pertemuan rapat perusahaan yang diadakan bersama Board of Director (BoD) SalMar. 

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa