Fakta Unik Chairul Tanjung

Siapa yang tidak kenal dengan sosok yang satu ini, dimana namanya sendiri menjadi sosok yang sangat tersohor karena dirinya adalah orang yang memiliki perusahaan bernama CT Corp. Yang dimana memiliki banyak sekali anak perusahan dan juga menaungi stasiun televisi Trans TV dan juga stasiun dari Trans 7 serta dimana masih banyak lagi juga anak perusahaannya. Ya, beliau sendiri adalah Chairul Tanjung. Namanya sekarang ini begitu tersohor karena success story yang dimana berawal dari sebuah keluarga biasa hingga menjadi seorang pengusaha agen sbobet88 konglomerat seperti pada sekarang ini. Berbagai kalangan yang dimana menyebutnya sebagai seorang pengusaha papan atas hingga dirinya yang juga mendapatkan julukan the rising star.

Fakta Unik Chairul Tanjung

Namun beliau yang dimana enggan mendapatkan sebuah julukan sebagai pengusaha dadakan tersebut. Dimana dirinya yang percaya bahwa yang dirinya dapatkan dalam hidupnya selama ini yaitu adalah sebuah hal yang berasal dari sebuah bekerja yang dimana kerja keras tersebut dia sudah lakukan bertahun-tahun mulai dari saat mahasiswa. Mulai dari buka usaha fotokopian hingga bisa sukses sampai dengan sekarang ini. Di balik kisah hidupnya dari Chairul Tanjung yang ternyata sangat menarik untuk diulas. Ayo kita kenalan lebih jauh dengan profil Chairul Tanjung dengan 10 fakta berikut ini:

Pernah Tinggal di Daerah Terkumuh di Jakarta

Kesuksesan dari Chairul Tanjung sendiri yang dimana bukanlah sebuah warisan dari turun-temurun yang ada dari keluarganya. Chairul Tanjung sendiri yang dimana bukan berasal dari sebuah keluarga dari sebuah konglomerat, ayahnya yang dimana adalah seorang wartawan pada orde lama yang dimana menerbitkan surat kabar beroplah kecil sedangkan ibunya sendiri yang dimana pada saat itu hanya lah seorang ibu rumah tangga biasa. Tahukah Anda bahwa ternyata dulu Chairul Tanjung sendiri yang ternyata pernah tinggal di daerah paling kumuh yang ada di Jakarta?

Tahun tujuh puluhan, jalanan yang dimana disana tanah becek dan banjir setiap musim hujan dan juga kering gersang setiap musim kemarau telah menjadi sebuah pemandangan biasa di Gang Abu, Batutulis, yang merupakan Kelurahan Kebon Kelapa, Kecamatan Gambir, yang ada di Jakarta Pusat. Di gang tersebut dimana pada saat itu Chairul Tanjung yang tinggal bersama kedua orang tuanya. Di mana pada saat itu rumah petak kecil, yang hanya beratap pendek dengan dinding tambal sulam itulah kemudian orang tua Chairul Tanjung mendidik beliau dengan cara yang sangat tegas. Orang tuanya yang dimana selalu memiliki prinsip. Agar dapat bisa keluar dari jerat kemiskinan, pendidikan yang dimana adalah sebuah hal yang merupakan langkah yang harus ditempuh dengan segala daya dan juga upaya. Kondisi ekonomi yang dimana pada saat itu sangat lemah menjadi sebuah pelecut bagi Chairul Tanjung untuk dapat terus bekerja keras hingga menjadi seorang sosok yang seperti sekarang ini.

Kuliah dari Hasil Gadai Kain Ibunya

Saat itu dimana pada saat sedang kuliah menjadi barang mewah bagi setiap orang. Prinsip yang dimana dahulu dipegang oleh kedua orang tuanya yang tidak menyurutkan semangat agar dirinya yang bisa menyekolahkan anak-anaknya dengan setinggi mungkin. Chairul Tanjung yang dimana memilih untuk masuk ke universitas negeri, bukan karena dirinya gengsi bahwa universitas negeri yang lebih bagus, namun karena biayanya lah yang lebih terjangkau. Apabila dirinya gagal masuk di universitas negeri maka dirinya yang tak ada pilihan lagi untuk melanjutkan kuliah berhubung biayanya yang pada saat itu sangat mahal. Sistem pendaftaran mahasiswa baru yang dimana kala itu memperbolehkan untuk mendaftar 3 jurusan yang berbeda di lima universitas. Pilihan yang pertama beliau yang dimana memilih jurusan teknik sipil perencanaan ITB, pilihan kedua yang dimana beliau memilih jurusan kedokteran gigi UI, dan juga pilihan ketiga beliau memilih jurusan farmasi yang ada di UI.

Tak dinyana, pilihan keduanya lah yang dimana sudah diterima. Total uang yang dimana perlu dibayarkan pada saat itu yang dimana juga sebesar Rp. 75.000. Rinciannya yang juga sebesar Rp. 45.000 untuk kuliah yang dimana selama satu tahun dan Rp. 30.000 untuk biaya administrasi sendiri dan juga lainnya. Biaya tersebut sendiri yang dimana tentulah termasuk sangat mahal bagi keluarga Chairul Tanjung yang ada pada Saat itu. Namun seperti yang sudah di bilang pada saat awal karena prinsip kedua orang tuanya tersebut maka tak ada kata menyerah.

Suatu ketika ibunya sendiri yang pada saat itu datang kepada Chairul Tanjung setelah dirinya pontang-panting mencari dana tambahan untuk kuliah dan ibunya berkata, Chairul, uang pertama yang dimana ibu berikan beberapa hari yang lalu, adalah uang yang ibu dapatkan dari menggadaikan kain halus ibu. Oleh karena itu belajarlah dengan serius ya Nak. Mendengar perkataan ibunya tersebut, hatinya yang dimana pada saat itu semakin membara dan kemudian membuat tekad bulat dalam hati bahwa semenjak kejadian ini lah dimana dirinya berkomitmen untuk tidak meminta uang lagi kepada ibunya.

15 Ribu Pertama Pembangkit Rasa Percaya Diri

Bak sebuah gayung yang bersambut, setelah dirinya yang sudah berhasil membulatkan sebuah tekad, maka dimana dirinya kemudian bertemulah dengan sebuah peluang. Peluangnya tersebut dimana adalah sebuah usaha fotokopian. Seperti biasa, bahwa sebagai mahasiswa yang dimana dirinya juga tak lepas dengan perkara fotokopi modul pelajaran ataupun juga praktikum. Nah di Fakultas Kedokteran Gigi UI sendiri yang dimana selalu ada praktikum dan setiap praktikum sendiri dirinya yang harus mengikuti prosedur yang ada di dalam buku praktikum. Buku praktikumnya tersebut tidak tebal, hanya 20 halaman dan dimana mau tak mau mereka yang pada saat itu harus wajib memilikinya. Rata-rata biaya fotokopi per-lembarnya sendiri pada saat itu adalah Rp. 25, sehingga untuk satu buku mereka yang dimana perlu membayar Rp. 500.

Suatu ketika Chairul Tanjung yang dimana menemukan sebuah fotokopian yang dimana bisa memberikan sebuah harga fotokopi yang hanya Rp. 150 saja. Lalu Chairul Tanjung kemudian menjual pada teman-temannya dengan harga Rp. 300. Harga ini sendiri adalah sebuah harga yang lebih murah dibandingkan dengan biasanya. Maka teman-temannya pun pada saat itu sangat tertarik. Dari peluang ini dimana Chairul Tanjung sendiri yang sudah berhasil mendapatkan keuntungan yaitu Rp. 15.000. Ini adalah Rp. 15.000 pertamanya yang dimana kemudian memunculkan sebuah semangat optimis dan juga sebuah rasa percaya dirinya.

Menjadi juragan fotokopi di kampus

Semenjak teman-temannya yang tahu bahwa dirinya yang bisa fotokopi lebih murah di tempat Chairul Tanjung, maka pada saat itu banyak mahasiswa yang berbondong-bondong datang untuk fotokopi. Tak hanya mahasiswa yang berasal dari kedokteran gigi saja, bahkan juga mahasiswa yang datang dari jurusan lain, dosen hingga juga beberapa rektor kenal dengan Chairul Tanjung. Semenjak itu dimana usaha fotokopiannya yang kemudian berkembang hingga membuka fotokopian di bawah tangga dekat dengan kampusnya. Semenjak itu Chairul Tanjung yang dimana mendapat julukan sebagai juragan fotokopian.

Itulah fakta menarik dari sang konglomerat Chairul Tanjung. Dimana sebelum dirinya sampai di tingkat kesuksesan seperti sekarang ini dirinya berjuang dari nol dengan semangat yang tinggi. Semoga kisah ini nantinya dapat menjadi sebuah kisah yang bisa menginspirasi anda. Terimakasih.

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa